Media yang tidak dikekang

Media massa di negara kita memposisikan mereka dengan sangat baik sekali. Setiap kali ada kekuatan yang mencoba untuk membatasi kebebasan pers, mereka langsung bersatu dan menuntut untuk ditegakannya kemerdekaan untuk berpendapat. Mereka bersembunyi di balik kata "kebebasan" dan "kemerdekaan" dalam apapun yang mereka lakukan. Sering kali kita mendapati bagaimana pers telah menerobos garis, menginjak norma dan merampas kemerdekaan orang lain yang tidak seharusnya mereka lakukan.Kita tentu masih ingat dengan insiden yang memalukan, insiden tentang kartun Nabi Muhammad yang digambarkan oleh seorang kolumist Denmark. Bak pepatah Inggris "pen is mightier than sword", pena sang kolumist itu pun menyebabkan puluhan orang di negara lain harus kehilangan nyawanya.
Bulan lalu koran Rakyat Merdeka memuat gambar yang tidak pantas dan berselera rendah untuk mengkritik kebijakan luar negri negara kangguru. Gambar tersebut direspons oleh surat kabar Australia dengan nada yang sama. Kedua gambar tersebut agak menjurus dan tidak senonoh, memberikan konotasi yang negatif terhadap pemimpin kedua negara.
Jika kita melihat kejadian ini, secara tidak langsung kita telah menyerahkan kepada media massa untuk menentukan opini, respon and tanggapan negara atas insiden tertentu. Berita yang mereka muat bukan lagi sekedar netralitas yang membuat pembaca lebih bijaksana dalam menentukan sikap, melainkan membakar, memprovokasi pembaca untuk mengambil tindakan ekstrem. Meskipun negara belum menentukan sikap, surat kabar dan media massa telah berhasil membentuk opini publik yang bisa saja cenderung berlawanan dengan kebijakan yang ingin diambil pemerintah. Publik yang sudah terpengaruhi lalu memberikan tekanan kepada pemerintah untuk bersikap keras terhadap masalah tertentu.
Jika dilihat dari sisi lain, media massa banyak yang memuat isu isu yang telah dipolitisi dan menimbulkan keresahan di kalangan tertentu. Insiden kartun Nabi Muhamad memperdalam jurang pemisah antara umat Kristiani dan kaum Muslim. Pernyataan maaf yang dikeluarkan tidak dapat mengobati luka yang telah menyayat hati kaum Muslim.
Intinya media yang tidak dibatasi sangat berbahaya. Saya rasa sepak terjang media massa perlu dibatasi. Memang harus diakui kita harus menghormati kebebasan orang untuk mengemukakan pendapat, tapi bukan bearti kita harus memperbolehkan kebebasan yang merugikan dan menerjang hak orang lain. Sepertinya media massa bangsa kita, seperti juga dari beberapa negara asing, selalu berteriak menuntut hak mereka. Mereka menuntut perlakuan khusus. Mereka menuntuk untuk ditutupnya departemen penerangan yang mengatur gerak gerik media. Tapi jarang dan hampir tidak pernah kita mendengar mereka melaksanakan kewajiban mereka.


3 Comments:
With freedom comes responsibility...
Situasi law tentang media di indo ky gmn yah? hehehe...
kl terhadap negara bisa dianggap slander? lol..
kebebasan pers, dalam hemat saya, sebaiknya sebanding dengan tingkat pendidikan di dalam masyarakat. kalau dilihat, media di negara barat cenderung lebih liberal tapi amuk massa lebih jarang terjadi? mungkin mereka, rata-rata relatively lebih teredukasi. sebaliknya untuk ukuran indonesia yang di mana tingkat pendidikannya lebih rendah, sebaiknya kebebasan persnya dibatasi juga. klo nga, orang2 gampang diprovokasi..
tapi saya melihat justru sebaliknya. Pendidikan tinggi tidak menjamin kita lebih bijaksana dalam bersikap (karena saya yakin pintar dan bijaksana adalah dua hal yang berbeda). Para pemimpin kita yang di DPR sangat emosian sekali. Bukannya menciptakan suasana yang kondusif, malah bersikap menantang Ausi gitu dan mudah terprovokasi.
Post a Comment
<< Home