Friday, March 24, 2006

Jakarta: A city without human face


Jika kita mencari image "Jakarta" di Google.com, gambar yang kita lihat itu tentulah jantung ibukota yang tampak menawan. Jembatan Semanggi, Tugu Monas, Jalan Thamrin dan Sudirman. Dana yang dikucurkan oleh Pemda DKI untuk me-make up daerah itu tidak sedikit. Renovasi Bundaran HI sampai bermiliar miliar. Memperindah trotoar. Tanam bunga dan pohon. Orang asing yang datang untuk conference di Jakarta pun merasa bahwa seolah olah mereka berada di dunia pertama. Kota Jakarta bak gadis cantik tiada tandingan.

Bagi kita kita yang hidup di Jakarta, tentulah kita menyadari bahwa dibalik wajah yang telah di make up itu terdapat wajah yang penuh dengan bopeng dan kusta. Dibelakang gedung bertingkat tersebut sudah banyak terdapat perumahan kumuh. Lihat saja di daerah Tanah Abang, Bendungan Hilir dan Karet. Semuanya rumah yang sangat sederhana (sekali), kumuh dan tidak begitu layak untuk ditinggali. Di daerah inilah praktek prakter pelacuran terselubung dan penjualan narkoba bersumber. Betapa ironis nya. Di Jalan Thamrin kita mendapati orang mapan makan di restoran mewah dari berbagai pelosok dunia, tapi beberapa langkah di belakang jalan tersebut dapat terlihat para pekerja duduk di pinggir jalan menikmati makanan yang dihidangkan dari gerobak dorong dan warung tenda.

Apabila dilihat lebih dalam lagi, ternyata gadis bermuka bopeng itu tidak berwajah. Tidak mempunyai expresi perasaan. Gadis yang tidak mempunyai rasa iba, kasihan dan keprihatinan terhadap yang lain. Memang benar. Para penduduk Jakarta sangat sibuk dengan aktivitasnya sampai sampai tidak peduli tehadap apa yang terjadi di sekitarnya. Supir Busway dan Metro Mini kebut kebutan untuk mengejar setoran, atau ingin tiba di tujuan lebih cepat, tanpa mempedulikan keselamatan yang lain. Seolah olah cuma mereka yang bayar pajak dan pemilik satu satunya jalan di ibukota. Orang yang merasa miskin dan tidak sanggup menyewa kios di pasar membuka kios sendiri di trotoar. Hebatnya mereka bisa lebih galak dari para penegak hukum ketika diusir dari tempat mereka berdagang.

Gadis Jakarta tidak mempunyai ruangan publik. Taman taman yang ada bukan ditujukan untuk para penduduk yang ingin melepas lelah dan menikmati ketenangan dibalik kesibukan kota. Taman yang ada dipagari untuk mengusir orang dari taman tersebut. Di Manhattan terdapat Central Park yang didirikan untuk para pekerja kantor menikmati udara segar. Tetapi Taman Monas sepertinya lebih ditujukan untuk mempersolek kota yang tidak berwajah. Bagaimana pula dengan tempat untuk menyarakan pendapat? Boro boro Jakarta ada. Warga Jakarta tidak mempunyai tempat, seperti Speakers Corner di Inggris untuk melakukan orasi dalam berbagi subjek. Terpaksa para demostran berteriak dan beraksi di Bundaran HI.

Bagaimana dengan orang cacat dan yang supermiskin? Sepertinya tidak ada tempat untuk mereka di Jakarta. Mungkin gadis Jakarta akan mengatakan "kalo loe tua ato sakit ya ente tinggal aje di panti jompo ato rumah sakit". Kota kota maju, seperti Singapura dan Tokyo, menyediakan sarana yang memedai untuk orang tua dan cacat. Di Singapura, setiap stasiun MRT terdapat panduan jalan di lantai (saya gak tau apa namanya) dan lift yang disediakan untuk orang yang duduk di kursi roda. Waktu saya di Jepang, saya benar benar kaget sewaktu melihat banyak orang tua yang berusia super lanjut jalan jalan dengan menarik tabung oksigen. Pipa dari tabung oksigen itu jelas terlihat dicocokan ke hidung mereka. Meski demikian, mereka masih merasa nyaman berjalan jalan karena kondisi kota dan masyarakat yang begitu bersahabat.

Pada waktu jaman Pak Harto, pemerintah berusaha keras untuk membangun jati diri bangsa yang bersahabat, bertoleransi, setia kawan, tenggang rasa dan rukun. Di Jakarta, semangat itu lebih dipromosikan bertepatan dengan Visit Asean Year 1993. Jakarta menjadi seperti kota yang sangat bersahabat, mempersilahkan orang orang untuk datang dan menikmati kecantikan Jakarta. Si gadis yang molek manjadi pujaan setiap orang. Baru lah sekarang kita harus mengakui bahwa si gadis yang bernama Jakarta itu tetaplah seorang gadis yang bersifat dan bermentalitas buruk. Seberapa tebal pernak pernik yang ditorehkan pada wajahnya tidak sanggup untuk menutupi kejelekan batinnya.

Setelah menulis begini banyak, saya baru menyadari jika menggunakan konotasi "gadis" untuk kota Jakarta sepertinya kurang tepat. Setelah pikir pikir, mungkin lebih cocok menggambarkan Jakarta sebagai sebuah wayang seperti gambar diatas. Kenapa? Wajah sejuta pesona ternyata hanyalah sebuah topeng. Senyuman yang ditampilkan adalah senyuman semu. Setiap gerak geriknya tidak terjadi secara alami, tidak sesuai dengan hari nurani sang wayang itu sendiri, melainkan sesuai dengan kehendak Dalang yang memegang kendali dan kekuasaan dalam menentukan setiap gerak gerik sang wayang.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home